Rasa

 rasa adalah…

.
.

.

.

.

.

.

kali ini ada topik diskusi yang menurut saya paling sulit dari yang tersulit dari yang pernah di bahas di postingan terdahulu. Untuk kali ini sudilah kiranya anda sekalian berbagi pengalaman ( sharing ) mengenai segala hal yang terkait dengan rasa sehingga pada akhirnya kita bisa mengisi titik2 quote di atas yang belum lengkap terisi.
.
atas perhatian n partisipasinya saya ucapkan banyak terima kasih😉

49 Responses to “Rasa”


  1. 1 lambrtz December 9, 2009 at 4:24 AM

    Kalau yang ini, yang pantas jawab Ki S™J.:mrgreen:

  2. 2 G3mbel December 9, 2009 at 4:53 AM

    ^
    ah sampean ini suka merendah gitu juragan. bukankah sampean juga kaya dgn pengalaman yang satu ini😉
    .

    * orang yang kikir berbagi pengalaman mari kita musuhi bareng *👿

  3. 3 Mizzy December 9, 2009 at 7:10 AM

    rasa itu…
    .
    .
    .
    sulit diungkapkan dengan kata-kata
    😛

  4. 4 Lambang December 9, 2009 at 7:57 AM

    Rasa itu adalah hasil proses electrochemical di wilayah somatosensory di otak berdasarkan input dari berbagai pengindera tubuh.

    Oiya prof, supaya lebih jelas lagi apa ngga perlu diberi batasan lingkup seperti fisis atau metafisis, realitas atau maya, biologis atau fisiologis, dan lain-lain *halah*

  5. 5 G3mbel December 9, 2009 at 8:40 AM

    ^😆 😆
    😆
    .
    .

    oh iya maaf ini si profnya dah mulai pikun dah rada error dikit dikit aja kok ndak terlalu banyak gara2 rasa sihh :mrgreen:😳

    .

    Rasa itu adalah hasil proses electrochemical di wilayah somatosensory di otak berdasarkan input dari berbagai pengindera tubuh.

    .
    seperti biasa ditampung dulu jawabannya ya…ya…😛😉
    .

    Oiya prof, supaya lebih jelas lagi apa ngga perlu diberi batasan lingkup seperti fisis atau metafisis, realitas atau maya, biologis atau fisiologis, dan lain-lain *halah*

    .
    untuk sementara biarkan saja mengalir ntar juga akan ketahuan kemana arahnya:mrgreen:
    .
    .
    ^
    ^
    .

    sulit diungkapkan dengan kata-kata

    .😯
    .
    kalau gitu semacam hal gaib ya 😕

  6. 6 S™J December 9, 2009 at 10:42 AM

    Kalau yang ini, yang pantas jawab Ki S™J

    muahahahaha™

    rasa banyak ragamnya… kalo basa jiran ada: tastes, senses, feelings, & mungkin yg lain lagi. lagi2 ini adalah sebuah kata, yg arti serta maknanya tergantung konteks™ *halah* pembicaraannya.😎

    • 7 Zephyr December 9, 2009 at 11:02 AM

      mungkin… Rasa yang di maksud di sini agak “nyrempet” ke konsep Rahsa yang sering Bung S™J bahas itu…😎

      ^

      .

      *sok tau mode on*😛

  7. 8 illuminationis December 9, 2009 at 11:15 AM

    ^ lha iya itu, Ki SJ perlu kasih link ke postingan blognya. topik yang sudah bolak-balik dikunyah, dari bingung sampe jadi sepa:mrgreen:

  8. 9 G3mbel December 9, 2009 at 2:37 PM

    ^
    .
    iya sepertinya Ki SJ untuk kali ini ndak bisa mengelak lagi untuk mewariskan seluruh kawruhnya 🙂
    .
    * bersimpuh di depan Ki SJ *
    .
    .
    ^
    ^
    .

    mungkin… Rasa yang di maksud di sini agak “nyrempet” ke konsep Rahsa yang sering Bung S™J bahas itu… 😎

    .
    sinuwun pangampun kalau sampai ilmu Rahsa itu sampai turun kepada saya yang hanya kasta gelandangan ini dengan cara apa saya harus membalas budi baik itu😦 , itu ilmu kan ilmu khusus orang dewasa sementara saya merasa masih remaja keneh ;(
    .
    katanya sih fase perjalanan ntuh hanya ada empat tahapan
    .
    fase anak-anak
    .
    usianya berkisar antara :
    .
    1. 0 sampai 5 tahun
    2. 5 sampai 12 tahun
    3. 12 sampai 17 tahun
    4. 17 sampai 25 tahun
    5. 25 sampai 60 tahun
    6. 60 sampai ajal tiba
    .
    katanya sih ketika fase anak-anak kita belajar tentang hidup
    .

    fase remaja
    .
    usianya berkisar antara :
    .

    1. 0 sampai 5 tahun
    2. 5 sampai 12 tahun
    3. 12 sampai 17 tahun
    4. 17 sampai 25 tahun
    5. 25 sampai 60 tahun
    6. 60 sampai ajal tiba
    .

    katanya sih ketika fase remaja itu kita belajar tentang fenomena
    .
    fase dewasa
    .
    usianya berkisar antara :
    .

    1. 0 sampai 5 tahun
    2. 5 sampai 12 tahun
    3. 12 sampai 17 tahun
    4. 17 sampai 25 tahun
    5. 25 sampai 60 tahun
    6. 60 sampai ajal tiba
    .
    katanya sih ketika fase dewasa itu kita belajar tentang kematian
    .
    fase paska dewasa
    .
    usianya berkisar antara :
    .

    1. 0 sampai 5 tahun
    2. 5 sampai 12 tahun
    3. 12 sampai 17 tahun
    4. 17 sampai 25 tahun
    5. 25 sampai 60 tahun
    6. 60 sampai ajal tiba
    .

    katanya sih ketika fase paska dewasa itu kita belajar tentang kehidupan
    .
    .
    .
    .
    * sumber ndak jelas asalnya alias bid’ah bin sesat *:mrgreen:
    .
    .
    .
    ^
    ^
    ^

    rasa banyak ragamnya… kalo basa jiran ada: tastes, senses, feelings, & mungkin yg lain lagi. lagi2 ini adalah sebuah kata, yg arti serta maknanya tergantung konteks™ *halah* pembicaraannya.😎

    .
    mohon dijabarkan lagi Ki biar semuanya nampak jelas sebab berasa masih gelap n berasep kan konteknya dah ada 🙂

  9. 10 Zephyr December 9, 2009 at 2:44 PM

    *mencatat penjelasan Prof. G3mbel*

    .

    .

    Anu.. Prof… tingkatan dan interval usia pada tiap fase itu… mohon bisa dijelaskan lagi…😎

  10. 11 G3mbel December 9, 2009 at 3:09 PM

    ^
    contohnya gini aja biar gampang itu bapa2 yang mulia dan terhormat para wakil rakyat yg ada di senayan sono anda pikir dah dewasa gituuuhh🙄 , ya.. ya.. usia mereka rata2 50 taunan gitu tapi tetep saja bagi saya mereka itu anak-anak, cuma sebatas anak-anak yang sungguh sangat menyebalkan …!!!!👿
    .
    .
    .
    intinya sih usia itu terbagi dua, usia fisis dan metafisis ini erat kaitannya dengan ilmu gerak d dimensi ke-5 dan ke-6😉
    .
    .
    * sayah tau anda ini orang yang cukup cerdas dan bisa faham apa yg di kamsud *:mrgreen:

  11. 12 Ali Sastro December 9, 2009 at 9:03 PM

    Menyambung komentar Mas Jenang, pertanyaan yang diajukan Mas G3mbel hampir semuanya merupakan pertanyaan terbuka, yang jawabannya bisa banyak sekali, bahkan tidak terbatas, dan boleh jadi semuanya ‘benar’. Tetapi menurut saya, yang menjadi persoalan dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini adalah asumsi dasar yang Mas G3mbel dan juga kita sepakati, bahwa sebuah kata itu — misalnya ‘rasa’, ‘gerak’, ‘dewasa’ — bukan lah dirinya sebagaimana adanya ia secara lahiriah. jadi kata “a” sebenarnya adalah “b yang merupakan c” atau malah “a” adalah keseluruhan abjad itu sendiri! Mengapa sebuah kata harus dijelaskan dengan kata yang lain atau lebih banyak kata-kata? Kita bisa membawa sekeranjang apel untuk menjelaskan apakah yang dimaksud dengan sekeranjang apel itu, tetapi apakah sekeranjang apel harus dan hanya bisa dimengerti sebagai sekeranjang apel? Tidak semua kata itu ramai dan gegap gempita oleh tafsir, makna, pengertian, definisi, etc. Ada juga kata-kata yang hidup seperti anak-anak yatim; hidup sebatang kara, tanpa anak-cucu tafsir yang tidak ada habisnya. Dan kata itu, adalah kata yang luar biasa hebat.

  12. 13 G3mbel December 10, 2009 at 5:16 AM

    ^
    .

    Ada juga kata-kata yang hidup seperti anak-anak yatim; hidup sebatang kara, tanpa anak-cucu tafsir yang tidak ada habisnya. Dan kata itu, adalah kata yang luar biasa hebat.

    .
    kayaknya saya punya contoh yang pas buat kata hebat yang anda maksud:mrgreen:
    .
    cuma satu kata saja dan memang hanya satu kata
    .
    apakah satu kata itu …?
    .
    satu kata itu tiada lain dan tiada bukan adalah Cinta tapi bukan “cinta”.
    .
    cinta yang ini justru yang ditafsirkan tak habis2nya oleh umat manusia dari mulai mereka ada sampai nanti saatnya tiada kembali. cinta yang melahirkan berjuta2 lagu , puisi serta karya sastra lainnya tapi tetep saja belum sampai ke esensinya.
    .
    bagi mereka yang telah sampai dan meraih esensinya, cinta cukup didefinisikan satu kata saja yaitu Cinta
    .
    jadi cinta adalah Cinta
    .
    jadi cinta itu mbah moyang persoalan yang telah selesai hanya dengan satu kata.:mrgreen:
    .
    gimana contoh kata sakti nan hebatnya betul apa ndak…?😀

  13. 14 frozen December 11, 2009 at 6:52 AM

    *saya ingin makan es krim*

    *numpang lewat doang*

  14. 15 G3mbel December 11, 2009 at 7:35 AM

    ^
    monggo mas dipersilahkeunn untuk secepatnya diselesekeun😀
    .
    * ora iso boso jowo alias ora mudeng *

  15. 16 Kurotsuchi December 12, 2009 at 12:21 AM

    rasa adalah extraordinarily sensation yang mampu mengejutkan otak untuk sadar bahwa garis itu tak hanya lurus, namun ada bentuk naik-turunnya seperti yang ditunjukin seismograf…

    ^
    saya pikir itu saja… hidup yang semu dan monoton kadang bikin saya merasa hampa, dan saya menggunakan istilah ‘mati rasa’. maka ‘rasa’ adalah sensasi luar biasa yang mampu menjadi alat pacu jantung yang mampu merubah bentuk garis indikator kehidupan itu dari bentuk datar menjadi bentuk tak teratur…

  16. 17 Kurotsuchi December 12, 2009 at 12:24 AM

    ^sebentar… malah jadi skeptik sama tulisan saya sendiri *moda plin-plan*

    mungkin kalo hidup saya itu diwakilin dalam warna adalah hitam pekat atau putih ngemplak, maka rasa adalah sesuatu hal yang merupakan warna mencolok yang hadir untuk mengganggu konsistensi warna monoton itu…

    walah, mbuh, lah… orang bego kayaq saya susah diajak berfilsafat😆

  17. 18 G3mbel December 12, 2009 at 8:40 PM

    ^
    .
    ya saya setuju rasa adalah playmaker yang mengatur ritme hidup dan kehidupan.
    .
    monoton itu pasti berbuah kebosanan sedangkan ketenangan itu semu sebab sebenarnya rasa itu tak kacau ( chaos ) ketenangan hanya akan muncul setelah melewati pusat kekacauan ( core of chaos )
    .
    kalau dilambangkan dengan warna hitam dan putih lebih tepat dilambangkan dengan simbol tao .
    .
    di tengah2 hamparan hitam itu ada setitik warna putih begitupun di tengah2 hamparan warna putih ada setik warna hitam dan kedua warna tersebut dibatasi garis dalam bentuk lingkaran.
    .

    walah, mbuh, lah… orang bego kayaq saya susah diajak berfilsafat 😆

    .
    kalau masih belum merasa ultra bodoh brarti masih belum berfilsafat .
    .
    jadi wajarlah karena filsafat itu khusus bagi orang2 yang merasa teramat sangat bodoh dan ultra skeptis.😆

  18. 19 illuminationis December 12, 2009 at 11:10 PM

    ^ comotan teori dari mana tuh Bung Gembel?

  19. 20 G3mbel December 13, 2009 at 6:23 AM

    ^
    itu ngasal ngejawab aja kan ada pakar tao yg ntar ngebetulin:mrgreen:

  20. 21 batjoe December 13, 2009 at 6:52 AM

    rasa adalah sebuah bentuk yang cm bisa dilihat oleh orang itu sendiri walapun semua orang memiliki rasa tapi belum tentu sama…

    dan kunci hidup itu adanya di rasa!!!!

  21. 22 illuminationis December 13, 2009 at 7:24 PM

    *clingak-clinguk, mana pakarnya?*

    ok deh mari sama-sama menunggu😎

  22. 23 G3mbel December 13, 2009 at 9:10 PM

    ^
    .
    jeileeh masih belum nyadar :mrgreen:😆😆

  23. 24 G3mbel December 13, 2009 at 9:38 PM

    rasa adalah sebuah bentuk yang cm bisa dilihat oleh orang itu sendiri walapun semua orang memiliki rasa tapi belum tentu sama…

    .
    rasa memang bisa dikatakan bentuk namun tak berbentuk.
    .
    keberadaannya ada namun entah dimana, bisa jadi di jasad atau di tubuh sebab rasa pun bisa di bagi dunia rasa terkait dengan hal fisik dan non fisik.
    .
    ketika kita terjatuh sampai kepala kita bocor mengeluarkan darah, kita merasakan sakit.
    .
    ketika kita merasa dikhianati atau dihujat atau dicaci maki kita juga merasakan sakit. tapi tentu berbeda dngn sakit yg pertama yg disebabkan karena terjatuh.
    .
    okelah kita umpamakan yg pertama itu sakit di jasad (fisik) yang kedua sakit di tubuh (nonfisik)
    .

    dan kunci hidup itu adanya di rasa!!!!

    .
    yap saya setuju…!!! , makanya orang tua dulu kala menilai derajat kedewasaan seseorang itu dinilai dari seberapa jauh dan seberapa dalam seseorang mampu mengolah rasa sehingga muncul peribahasa simaklah perkataan orang yg telah banyak makan asam garam kehidupan
    .
    ada yang mengatakan bahwa rasa itu tidak pernah bohong , ya itu tidak salah namun tidak sepenuhnya benar sebab rasa juga bisa dimanipulasi dan juga bisa membohongi
    .
    hidup dan mati pun sebenarnya ada di wilayah rasa .
    .
    bedanya mesin ( robot ) dan manusia secara kasar bisa dibedakan dengan ada dan tidaknya rasa. manusia mungkin bisa menciptakan robot yang hampir mirip manusia dari segi kepintaran dan kecerdasannya tapi manusia saya pikir mustahil membuat robot dengan kemampuan rasa sehingga robot itu bisa jatuh cinta misalnya:mrgreen:

  24. 25 G3mbel December 13, 2009 at 11:26 PM

    @ all
    .
    ada pertanyaan tambahan, mungkin diantara anda ada yang berkenan menjelaskan sekaligus membedakan pain and suffer atau sakit dengan derita …?

  25. 26 illuminationis December 14, 2009 at 11:25 AM

    “Pain is inevitable. Suffering is optional. Pain and suffering are not the same thing. Pain is a physical sensation; suffering is how we choose to experience it”

    dicomot dari blog ini

  26. 27 eMina December 14, 2009 at 6:36 PM

    rasa itu…yang menjadikan kita lebih manusia dan bisa dilihat jika termaterikan kata, atau terekspresikan fisik ? ^^

  27. 28 G3mbel December 15, 2009 at 4:02 AM

    ^
    .

    rasa itu…yang menjadikan kita lebih manusia dan bisa dilihat jika termaterikan kata, atau terekspresikan fisik ? ^^

    .
    ya demikianlah , namun rasa yang terekpresikan kata bukanlah rasa , itu sekedar bayang-bayang rasa saja sebab rasa yang sebenarnya tak bisa diwakilkan dengan kata-kata sebagai contoh bisakah kita melukiskan rasa manis, pahit , asin , kecut, panas, dingin, kepada orang yang belum pernah mengalami rasa tersebut…?
    .
    apalagi rasa yg terkait dengan hal non fisis semisal benci, dendam , kasihan, iri, dengki, marah , malu , takut , berani, kalut, bingung, sedih, susah, gembira, bahagia, khawatir, rindu, betah, terhina, terpesona, tersanjung, damai , cinta dan lain sebagainya. bisakah mahluk selain manusia mengalami rasa yang seperti ini..?🙄
    .
    nah sebenarnya rasa itu lebih bisa dilihat dari ekpresi fisik semisal rasa marah , orang mungkin bisa saja berbohong saya tidak marah kok sungguh tapi kita dengan jelas melihat ekpresi marah nafasnya tak teratur, mukanya merah dan kata2nya menjadi tak fokus . rasa malu , rasa sedih , gembira dan rasa2 yg lainnya pun kita bisa melihat dengan jelas lewat ekpresi. seperti😆😦 ,🙂 ,😛 ,😀 ,:mrgreen: dst.
    .
    tapi rasa pun bisa dimanipulasi dengan kesadaran semu semisal bibirnya sih tersenyum padahal sebenarnya menangis, atau marah, atau sinis atau menghina, dsb
    .
    jadi tidak selamanya rasa itu bisa terekpresikan secara fisik. misal ada seorang perempuan yg diam seribu bahasa, rasa apa sebenarnya yg ia sembunyikan , benci, marah, kecewa , bingung , sedih , ataukah cinta…? orang lain mana tau hanya perempuan itulah tentunya yang tau 🙂
    .
    rasapun bisa dikatagorikan dalam empat lapisan, lapisan permukaan, kedalaman, dasar dari kedalaman. dasar terdalam dari yang terdalam ( esensi rasa )

  28. 29 G3mbel December 15, 2009 at 4:10 AM

    ^
    ^
    .

    “Pain is inevitable. Suffering is optional. Pain and suffering are not the same thing. Pain is a physical sensation; suffering is how we choose to experience it”

    .
    .
    I agree that pain is inevitable. our hands hurt and bleeding, we would feel pain. but the form of pain is’t really in the hands but actually in the brain. and we also know the pain medication was. so pain in fact can’t be avoided but also can be eliminated by certain ways, so no more suffering .😉
    .
    so we can say that pain is a biochemical reaction that occurs in the brain.
    .
    As for the pain associated with intangible things like hatred, resentment, anger, loss, sadness, slumped ect. as these are all related to the perception of the mind in the brain. of course this is a choice, we can experience (suffering) it or eliminated (not suffering) it.
    .
    The best thing to avoid non-physical pain is the path of concentration and focus the mind in the right direction that will produce knowledge.
    .
    non-physical pain is also closely related to the physical because it still occurs only in the brain.🙂

  29. 30 hanif December 15, 2009 at 5:40 AM

    Rasa adalah, pertautan hati, yang muncul dari mata dengan melihat, lidah dengan perasa, kuping dengan mendengar, hidung dengan pembau, maka setelah itu turun ke hati dan mengirim ke otak, apa rasa saat itu, hehe… mampir balik yh, thx…

  30. 32 Mizzy December 15, 2009 at 7:43 AM

    Rasa adalah hasil interpretasi otak terhadap ransangan yang diterima oleh pancaindera.

    Ransangan –> organ reseptor (indera) –> saraf sensorik –> otak

    gula –> dikecap oleh lidah bagian tengah –> saraf sensorik –> otak (interpretasi: rasa manis)

    untuk ‘rasa-rasa’ yang lain mungkin jalurnya juga sama, termasuk ‘rasa’ yang menyangkut hati.

    .
    .
    .

    baru kepikiran itu dowangan:mrgreen:

  31. 34 Mizzy December 15, 2009 at 7:48 AM

    Ah, kelupaan (doh)

    Setelah mengecap rasa, biasanya dilanjutkan dengan tindakan (ekspresi) kan ya, jalur lengkapnya jadi begini:

    Ransangan –-> organ reseptor (indera) –-> saraf sensorik –-> otak –> saraf motorik –> efektor (otot)

    misalnya:

    pacar jalan sama cowok lain –> ditangkap mata –> saraf sensorik –> otak (interpretasi: marah, cemburu, de el el) –> saraf motorik –> *buk buk buk*😆

  32. 36 Mizzy December 15, 2009 at 7:55 AM

    ^

    (doh) typo: “rangsangan” maksudnya😛

    hattrick!! \m/

    *ditendang*

  33. 38 Lambang December 15, 2009 at 9:21 AM

    Jadi, kesimpulan akhir tentang rasa gimana prof?🙄

    Udah hampir seminggu nih megangin botol aqua.
    *siap diterbangkan untuk memberi rasapain and suffering*😎

    Tripitaka (Visuddhi Magga):
    Mere suffering exists, no sufferer is found.
    The deeds are, but no doer of the deeds is there,
    Nirvana is, but not the man that enters it.
    The path is, but no traveler on it is seen.

    (dari sumber yang sama dengan Mbak Illum)🙂

    • 39 G3mbel December 16, 2009 at 4:57 AM

      Jadi, kesimpulan akhir tentang rasa gimana prof?

      Udah hampir seminggu nih megangin botol aqua.
      *siap diterbangkan untuk memberi rasapain and suffering*

      .
      sabar… sabar… belum apa2 dah mau klimaks baru aja warming up :mrgreen:

      .

      Tripitaka (Visuddhi Magga):
      Mere suffering exists, no sufferer is found.
      The deeds are, but no doer of the deeds is there,
      Nirvana is, but not the man that enters it.
      The path is, but no traveler on it is seen.

      (dari sumber yang sama dengan Mbak Illum)

      .
      beuuh tempur aja bloon dah mau nyampe sini wekeke…:mrgreen:😆

  34. 40 Lambang December 15, 2009 at 11:19 AM

    Mas Gem,
    Ijin tak roll ya di blog saya.
    Sorry soal ignorance yang di atas itu ^^😦

  35. 42 S™J December 15, 2009 at 1:24 PM

    Kita bisa membawa sekeranjang apel untuk menjelaskan apakah yang dimaksud dengan sekeranjang apel itu, tetapi apakah sekeranjang apel harus dan hanya bisa dimengerti sebagai sekeranjang apel?

    atau menjelaskan tentang sebuah apel dengan menunjukkan sekeranjang apel lainnya. yeah…😎

  36. 45 Emina December 18, 2009 at 11:07 AM

    Jika rasa serumit itu, mari kita judulkan wacana ‘misteri rasa’.
    Kalo kata arvan pradiansyah rasa berasal dr pikiran/otak.
    But anw, apapun definisi rasa, sy ingn blajar menikmati smua rasa dgn tulus. Krn itu indah. Wlw kadang menyedihkan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




jadwal pentas

December 2009
S M T W T F S
« Nov   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

jumlah kunjungan

  • 7,212 hits

tamu istimewa

  • None

Top Posts


%d bloggers like this: